CERPEN

Beradaptasilah

by BS

Kadang seorang yang sudah terbiasa dengan kehidupan sebelumnya susah buat menghadapi kehidupan yang baru, iya kah, benarkah demikian?

Dia orang yang baru mengenal kehidupan “aneh” ku, ya memang “aneh”. Tapi keanehan ku ini wujud dari caraku menyikapi dunia. Aku tidak suka sama dunia saat ini, banyak penjahat kelamin, penjahat sosial, penjahat ekonomi, penjahat lingkungan, ya……sederhananya penjahat kemanusiaan.

Hidupku dikelilingi dengan itu, aku bukan orang yang menerima kebenaran tanpa dipelajari. Bagiku kebenaran lahir atas usaha keras ku mempelajari alam raya ini, tanpa dipaksa oleh siapapun!. Ya itu dia kebenaran.

Dia yang sedang bersamaku, mungkin, merasa risih, jenuh, malas, hingga mungkin menghindar untuk tau lebih banyak yang ku pelajari.

Barangkali dia masih sulit, aku hargai itu, karena proses belajar tentu akan mempermudah urusannya. Dia yang kutau seorang yang serius untuk belajar, serius untuk hidup dan serius untuk mencari kebenaran, akan kesulitan jika tidak beranjak selangkahpun. Ya…hidup bergerak, selangkah demi selangkah. Dia yang tidak bergerak bertanda dia dekat dengan kematiannya.

Kadang memang aku mengerti, sesuatu yang baru akan sulit menjadi bagian hidupnya. Tapi aku sadar dan hargai itu. Aku harus sabar, tegar dan tangguh untuk meyakinkan dia. Dunia ini terlalu luas untuk dipelajari, memang, tapi bukan berarti berhenti bahkan tidak belajar sama sekali. Bagiku itu keliru, tentu… ya bayangkan saja sejak kita lahir di dunia, insting untuk belajar itu kuat, dari berebah, merangkak, duduk, hingga berdiri, usaha itu… ya usaha itu tanpa sadar kita lakukan, dengan belajar, belajar dan belajar sampai kita mampu berdiri saat ini.

Dia hanya perlu beradaptasi, beradaptasi dengan lingkungan baru, suasana baru, kawan baru, dan yang paling utama ilmu pengetahuan baru. Ya itu dia. Tanpa ilmu, manusia bagaikan tembok, dia kaku dan dia hanya menopang hidupnya sendiri.

Yaaa, ketahuilah, ketidaktahuan tidak akan menolong siapapun.

Dia bukan berarti menghapus masa lalu yang cemerlang itu, tidak, tapi jadikan itu permata berharga dan kenanglah dia.

Buat dia, lihatlah perkembangamu setiap saat, jangan meremehkan sedikitpun, dan hargai itu.

CINTA

Kadang datang disaat yang tepat, kadang juga sebaliknya. Dia pun bukan hal yang melulu tentang dua insan yang berbeda jenisnya. Dia pun bukan satu spesies dari sesamanya. Iya.. Itu yang kutau tentang cinta.

Kadang pula dia sukar dipikirkan, butuh perenungan, prasangka ataupun keraguan. Aku tidak bisa berkata tidak, dan apatis terhadapnya. Dia kadang menyelimuti malam begitupun siang.

Kadang pula, hadirnya dia membuat aku sebagai makhluk dapat hidup dan berdiri kokoh atas fana dan rusaknya dunia. Aku tidak berpikiran pula untuk menyangkalnya. Dia mengelilingi setiap yang bernyawa.

Kadang pula, dia membuat aku jadi terpana pun juga merana. Apakah itu yang namanya cinta. Cinta juga bagiku tidak dapat dicerna oleh ide, karena terbatas. Terbatas akan ruang begitupun waktu. Dia itu juga bisa buat orang jadi tak berdaya, luluh diatasnya dan bahkan menjadi gila karenanya. Tapi menurutku cara itu kurang tepat, mengapa? Bagiku ketika kita berfikir dan bertindak atas sesuatu tentang Cinta, dia hanya bisa diolah dengan masing-masing ukuran, bukan bermaksud untuk membatasi, tapi bertujuan untuk tidak berlebihan. Kadang kadar yang berlebihan itu cenderung berbahaya bagi pemakainya.

Kurasa pula, jatuh Cinta bukan lah hal yang buruk, tapi jika itu udah melebihi kadarnya justru bisa mencelakai nya.

Tapi kan, bagaimana dengan Cinta kita kepada yang Kuasa, apakah juga menentukan kadar? Bagiku iya. Mengapa? Jika berlebihan kita lupa dengan sekeliling kita, sedang Cinta pun menuntut perasaan yang sama, tidak sebatas Cinta yang lupa dengan sesama. Toh, Cinta itu butuh pikiran dan perbuatan, dan keduanya tidak bisa berat sebelah, karena jika berat sebelah diapun akan timpang dan celaka.

ISOLASI

Satu waktu, aku berhadapan dengan seorang kawan. Tubuhnya seukuran denganku, namun lebih berisi. Ketika sedang berhadapan kami sedang membahas fenomena yang kini merebak sejagat raya, iya ini tentang virus. Virus ini menyerang lintas negara, daerah, provinsi, kabupaten hingga tingkat desa. Virus tersebut bernama Covid-19 (19 merupakan angka tahun ditemukannya virus tersebut), dan Indonesia melalui pemerintahan memutuskan pada (15/3/2020) untuk setiap daerah mengambil langkah untuk mengatasi virus tersebut.

Dia bercerita, bahwa kini virus ini sudah merebak hingga mendorong semua sendi-sendi kehidupan lantas berubah. Secara ekonomi, setiap negara dihadapkan untuk mempertahankan agar keutamaan kesehatan dapat terjamin, tanpa harus membuat ekonomi lesu. Secara sosial, setiap negara mengharuskan agar warga negaranya dapat menjaga diri, termasuk ikut serta mendata riwayat diri. Secara politik, setiap negara mendorong kebijakan yang diharuskan mampu menopang kedua hal sebelumnya. Dia terus menceritakan bahwa virus ini sudah menjadi pandemik (virus skala internasional) yang menakutkan banyak orang.

Setelah dengan penuh semangat dia menceritakan hal-hal yang terjadi, kami menyeruput kopi untuk istirahat sejenak, menikmati udara malam kala itu. Tidak lupa, sigaret dinyalakan untuk menambah suasana yang cenderung hangat tersebut. Pasca kami berdua telah memanjakan tubuh dengan kopi dan sigaret, dia kembali bercerita.

“Kini kita dihadapkan pada dua pilihan” ungkapnya sambil menguapkan kepulan sigaret, “pertama kita wajib untuk menjalankan perintah dari pemerintahan untuk mengisolasi diri, atau kedua bekerja untuk bertahan hidup meski dihadapkan dengan virus yang mematikan itu” ketusnya!

“bukannya, pemerintah sudah memberi keringanan kepada kita, berupa subsidi?” sambungku bertanya. “iya, namun itu terbatas!” balasnya, sambil kembali menyeruput kopi yang menguap dingin.

“bukannya, kini setiap sendi-sendi kehidupan kita memang terbatas?” aku bertanya. Kita kini terbatas untuk menuangkan setiap kreativitas (ingat! bukan inovasi ala Industrialis), “dahulu pernah ada cita-cita bahwa hidup tanpa kepemilikian pribadi (kepemilikan privat) atas sumber-sumber yang menjamin hajat hidup orang banyak”, seperti industri kesehatan, pendidikan, sumber daya alam hingga perbankan dan semua itu dikelola oleh semua yang bekerja.

Namun kini, sambungku “semua itu dimiliki oleh mereka yang berkuasa atas modal!” ungkapku, sambil menghisap dengan dalam sigaret. “jika semua sumber daya yang ada dapat di kelola bersama, mungkin masalah-masalah bisa diatasi dengan baik, termasuk virus yang merebak kini” lanjutku.

“Tapi tidak semudah itu” sanggahnya, “kini semua sudah dikuasa oleh mereka yang berkuasa atas itu!”. Tidak heran menurut Oxfam (2019) 26 Miliarder terkaya di dunia kekayaannya setara 3,8 Miliar orang dunia, sementara di Indonesia 4 orang terkaya setara dengan 100 Juta penduduk miskin. Dia mengungkapkan data-data terkini terpampang pemisahan jurang kemiskinan tersebut.

“benar, data-data itu tidak statis, bahkan selalu mengalami peningkatan pemisahannya” sambungku. Beberapa waktu berselang, kawanku pekerja kemudian turut bergabung, dan menyambung ceritanya kini.

“lu pada nyaman ya, kita kelas pekerja masih terus bekerja, meski berhadapan dengan virus mematikan itu!” ketusnya. Memang dia baru pulang bekerja, di sebuah perusahaan ternama. Kami mahfum atas kekesalannnya tersebut. “menurutku kini, yang paling mungkin ditengah virus mematikan itu adalah kita tidak perlu berdebat atas masalah yang dirundung manusia kini”. Dia mengungkapkan, kehidupan dunia kerja kini bagai mati segan hidup tak mau, ketidakadilan ini benar-benar nyata, “lu pernah mendengar para medis berhadapan dengan virus dengan jas hujan semata” lanjutnya.

Kami berdua tertegun, melihat ceritanya. Di malam suntuk itu, terus-menerus kita memperdalam cerita demi cerita, namun di akhir cerita sebelum pulang ke rumah masing-masing kita bersepakat bahwa “kita tidak boleh terus seperti ini, selain melawan virus yang mengisolasi, kita perlu bangun soliditas bersama melawan kuasa kepemilikan pribadi yang menyengsarakan makhluk hidup kini”.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai