Satu waktu, aku berhadapan dengan seorang kawan. Tubuhnya seukuran denganku, namun lebih berisi. Ketika sedang berhadapan kami sedang membahas fenomena yang kini merebak sejagat raya, iya ini tentang virus. Virus ini menyerang lintas negara, daerah, provinsi, kabupaten hingga tingkat desa. Virus tersebut bernama Covid-19 (19 merupakan angka tahun ditemukannya virus tersebut), dan Indonesia melalui pemerintahan memutuskan pada (15/3/2020) untuk setiap daerah mengambil langkah untuk mengatasi virus tersebut.
Dia bercerita, bahwa kini virus ini sudah merebak hingga mendorong semua sendi-sendi kehidupan lantas berubah. Secara ekonomi, setiap negara dihadapkan untuk mempertahankan agar keutamaan kesehatan dapat terjamin, tanpa harus membuat ekonomi lesu. Secara sosial, setiap negara mengharuskan agar warga negaranya dapat menjaga diri, termasuk ikut serta mendata riwayat diri. Secara politik, setiap negara mendorong kebijakan yang diharuskan mampu menopang kedua hal sebelumnya. Dia terus menceritakan bahwa virus ini sudah menjadi pandemik (virus skala internasional) yang menakutkan banyak orang.
Setelah dengan penuh semangat dia menceritakan hal-hal yang terjadi, kami menyeruput kopi untuk istirahat sejenak, menikmati udara malam kala itu. Tidak lupa, sigaret dinyalakan untuk menambah suasana yang cenderung hangat tersebut. Pasca kami berdua telah memanjakan tubuh dengan kopi dan sigaret, dia kembali bercerita.
“Kini kita dihadapkan pada dua pilihan” ungkapnya sambil menguapkan kepulan sigaret, “pertama kita wajib untuk menjalankan perintah dari pemerintahan untuk mengisolasi diri, atau kedua bekerja untuk bertahan hidup meski dihadapkan dengan virus yang mematikan itu” ketusnya!
“bukannya, pemerintah sudah memberi keringanan kepada kita, berupa subsidi?” sambungku bertanya. “iya, namun itu terbatas!” balasnya, sambil kembali menyeruput kopi yang menguap dingin.
“bukannya, kini setiap sendi-sendi kehidupan kita memang terbatas?” aku bertanya. Kita kini terbatas untuk menuangkan setiap kreativitas (ingat! bukan inovasi ala Industrialis), “dahulu pernah ada cita-cita bahwa hidup tanpa kepemilikian pribadi (kepemilikan privat) atas sumber-sumber yang menjamin hajat hidup orang banyak”, seperti industri kesehatan, pendidikan, sumber daya alam hingga perbankan dan semua itu dikelola oleh semua yang bekerja.
Namun kini, sambungku “semua itu dimiliki oleh mereka yang berkuasa atas modal!” ungkapku, sambil menghisap dengan dalam sigaret. “jika semua sumber daya yang ada dapat di kelola bersama, mungkin masalah-masalah bisa diatasi dengan baik, termasuk virus yang merebak kini” lanjutku.
“Tapi tidak semudah itu” sanggahnya, “kini semua sudah dikuasa oleh mereka yang berkuasa atas itu!”. Tidak heran menurut Oxfam (2019) 26 Miliarder terkaya di dunia kekayaannya setara 3,8 Miliar orang dunia, sementara di Indonesia 4 orang terkaya setara dengan 100 Juta penduduk miskin. Dia mengungkapkan data-data terkini terpampang pemisahan jurang kemiskinan tersebut.
“benar, data-data itu tidak statis, bahkan selalu mengalami peningkatan pemisahannya” sambungku. Beberapa waktu berselang, kawanku pekerja kemudian turut bergabung, dan menyambung ceritanya kini.
“lu pada nyaman ya, kita kelas pekerja masih terus bekerja, meski berhadapan dengan virus mematikan itu!” ketusnya. Memang dia baru pulang bekerja, di sebuah perusahaan ternama. Kami mahfum atas kekesalannnya tersebut. “menurutku kini, yang paling mungkin ditengah virus mematikan itu adalah kita tidak perlu berdebat atas masalah yang dirundung manusia kini”. Dia mengungkapkan, kehidupan dunia kerja kini bagai mati segan hidup tak mau, ketidakadilan ini benar-benar nyata, “lu pernah mendengar para medis berhadapan dengan virus dengan jas hujan semata” lanjutnya.
Kami berdua tertegun, melihat ceritanya. Di malam suntuk itu, terus-menerus kita memperdalam cerita demi cerita, namun di akhir cerita sebelum pulang ke rumah masing-masing kita bersepakat bahwa “kita tidak boleh terus seperti ini, selain melawan virus yang mengisolasi, kita perlu bangun soliditas bersama melawan kuasa kepemilikan pribadi yang menyengsarakan makhluk hidup kini”.
Tinggalkan komentar