Sebelumnya saya pernah menuliskan “Hubungan Beracun (Toxic)”. Hampir sama dengan tulisan saya sebelumnya, meskipun titik berangkatnya tertuju kepada orang-orang yang berpasangan namun bersifat mematikan.
Kali ini, tulisan ini tertuju kepada model hubungan/relasi yang bernuansa keluarga. Tahu tidak, hubungan ayah dengan anak, ibu dengan anak, paman-bibi dengan keponakan hingga kakek-nenek dengan cucu bisa bermuara pada hubungan yang beracun (toxic). Relasi kuasa atas garis keturunan dalam sebuah keluarga bisa menghasilkan model hubungan yang tidak membuat kita nyaman atau justru cenderung menindas.
Sedari awal saya telah menyadari bahwa hubungan beracun tersebut tidak musti dilatarbelakangi dengan pendidikan yang minim. Bahkan justru orang-orang yang dianggap terdidik dari sarjana hingga pascasarjana pun dapat melakukan keluarga toxic. Orang-orang tersebut justru adalah yang terdekat dengan kita.
Dasarnya sederhana relasi kuasa atau garis hierarki dalam sebuah lembaga yang bernama “keluarga”. Namun beberapa pendekatan yang lain mempertajam, bahwa garis hierarki itu disahkan dengan sistem politik-budaya sosial-psikologi-ekonomi-hukum. Semuanya berkait keliatan satu dengan lainnya.
Mari kita kupas perlahan-lahan mengapa hal tersebut bagaikan sebuah gunung es, tajam ke atas namun menukik kebawah. Banyak tindakan keluarga toxic ini justru diabaikan.
Pertama, sistem politik kita yang dominan kini mengajarkan bahwa kekuasaan itu “menyenangkan”. Kita diajarkan bahwa dengan berkuasa, segala-galanya dapat kita tempuh dengan cara yang baik ataupun tidak, dengan cara yang penuh kezaliman ataupun kelembutan. Dengan berkuasa kita bisa mendapatkan banyak hal dengan mereka yang tidak berkuasa. Dari hal tersebut sampai ke dalam ranah personal/privat kita ingin dikuasai. Ini yang menjadi pola hingga dalam ranah keluarga bahwa penguasaan atas orang tertentu dapat menjadi “menyenangkan”.
Kedua, sistem budaya sosial kita yang dominan kini mengajarkan bahwa menjadi “mayoritas” Itu lebih aman daripada berpikiran dan berprilaku diluar kebanyakan. Ide yang anti kelaziman dianggap penyimpangan. Seakan-akan ide “mayoritas” Itu adalah fatwa kebenaran yang tidak dapat diganggu-gugat. Dari hal tersebut, keluarga justru cenderung antipati dengan pikiran diluar kelaziman yang dianggap membahayakan dan tidak seharusnya.
Ketiga, sistem psikologi kita yang dominan kini mengharuskan keinginan, hasrat, ego hingga super ego untuk berkompetisi dalam banyak spektrum hingga berusaha untuk memaksa agar orang-orang tersebut menyamai psikis dengan orang yang berkuasa. Narasinya “kau harus menjadi ini-itu, kau harus menuruti kemauan-ku, kau harus mengikuti kehendak ide-ku” Adalah pola umum yang sering kita kenali. Dari hal tersebut masuk pula menjadi narasi umum dalam ranah keluarga. Keluarga justru bukan menjadi medium pertukaran gagasan, memahami ide, hingga bersilang pendapat, tetapi jadi lembaga yang lebih menakutkan dari kamp konsentrasi Fasis Hitler.
Keempat, sistem ekonomi kita yang dominan kini adalah “kepemilikan pribadi” Adalah tujuan sesungguhnya dari kemegahan. Bukan hanya berupa barang, investasi, atau uang, namun juga manusia menjadi “barang” yang bisa dijadikan produk investasi. Manusia terpenjara dengan pikiran tersebut, anak-ponakan-cucu adalah investasi masa depan. Tidak boleh tidak, dia harus mengikuti keinginan si berkuasa tersebut. Kepemilikan pribadi tersebut ibarat seorang manusia membeli sebuah gawai, dia bisa mempergunakan dengan sesukanya. Menjadikan dia sebagai objek yang bisa dibentuk dengan pikirannya.
Kelima, sistem hukum kita yang dominan adalah “bernalar adalah penyimpangan”. Kita dipaksa untuk mempercayai bahwa hukum dapat menjadi bahwa dia dapat mengatasi segala-galanya, berkebalikan dengan itu justru hukum lah yang melanggar hukum. Sepengetahuan saya, sebuah hukum akan dianggap berhasil jika dia tidak dianggap menghukum. Ilmu hukum itu bertujuan untuk mencerdaskan manusia, bukan membuat dia terpenjara akan hukum. Namun keluarga toxic memandang bahwa hukum tertinggi adalah pengalaman pribadinya, seakan-akan itu adalah muara kebenaran yang valid, sementara cerita nalar yang berbeda dianggap sebuah kemustahilan.
Dari lima hal tersebut adalah pola umum dalam keluarga toxic, ada banyak pola-pola yang dapat kita identifikasi. Pada prinsipnya, keluarga toxic mengandalkan sebuah hubungan yang mengkerdilkan, menindas, memasung, hingga menutup kemungkinan nalar yang berseberangan dengannya. Tidak bisa tidak, jika kita menemui hal tersebut sebaiknya tidak bisa ditoleransi.
Ada banyak cara-cara perlawanan yang dapat dilakukan. Pertama, jangan pernah menuruti semua keinginannya. Kedua, adu pikiran dengan cara yang terbuka. Ketiga, jangan mengikutsertakan permasalahan personal dalam mengadu pikiran. Keempat, berdiam diri jika pola toxic masih dilakukan. Kelima, tutup telinga biarkan ocehan dan lebih mengutamakan aktivitas produktif. Keenam, hubungi pihak berwajib jika pola tersebut telah bermuara kepada pencemaran nama baik hingga penyerangan fisik. Selamat melakukan perlawanan.
Tinggalkan komentar